Sugar plum memiliki sejarah panjang yang berakar pada abad ke-17 di Eropa, ketika gula masih menjadi barang mewah yang hanya dapat diakses oleh kalangan bangsawan dan orang kaya. Meski namanya mengandung kata "plum," permen ini sebenarnya tidak terbuat dari buah plum. Sebaliknya, sugar plum dibuat dengan teknik dragee, yaitu proses berulang kali melapisi bahan inti, seperti biji rempah atau kacang, dengan gula hingga membentuk lapisan keras yang mengilap.
Pembuatan sugar plum bukanlah hal yang mudah. Para pembuat permen menggunakan panci khusus yang disebut "pan dragee" untuk memutar dan melapisi bahan inti dengan gula cair secara perlahan, sehingga prosesnya bisa memakan waktu berhari-hari. Karena kompleksitas pembuatannya dan harga gula yang tinggi pada masa itu, sugar plum menjadi simbol kemewahan dan sering disajikan dalam perayaan-perayaan istimewa.
Pada abad ke-18 dan ke-19, sugar plum semakin dikenal dan sering muncul dalam sastra serta budaya populer. Salah satu referensi paling terkenal adalah dalam puisi "A Visit from St. Nicholas", yang lebih dikenal sebagai "The Night Before Christmas". Dalam puisi ini, anak-anak bermimpi tentang sugar plum yang "menari di kepala mereka," memperkuat asosiasi permen ini dengan kegembiraan dan perayaan Natal.
Seiring berjalannya waktu, kemunculan permen dengan teknik produksi yang lebih modern membuat sugar plum semakin jarang ditemukan. Namun, warisannya tetap hidup dalam budaya populer dan nostalgia akan manisan klasik yang pernah menjadi simbol kemewahan di masa lalu.
Comments
Post a Comment