Aku bangun seperti biasa. Lampu menyala otomatis begitu aku membuka mata. Udara bersih. Hening. Jam digital di dinding menyala biru: 06:00. Selalu 06:00, bahkan saat aku bangun siang. Jamnya tidak pernah berubah. Tapi aku tak pernah benar-benar memikirkannya.
Aku duduk di tepi ranjang, lalu mengusap wajah.
[PROTOKOL PAGI – DR. ELAN MATHIS]
Tidak pernah ada suara yang dikeluarkan, hanya tulisan. Tulisan itu melintas di penglihatanku, menggantung selama beberapa detik lalu menghilang. Sebuah notifikasi sistem, rutin setiap pagi. Aku menarik napas panjang dan mulai bergerak.
Di meja, sebuah cangkir teh masih mengepul.
Aku tidak ingat membuatnya. Tapi setiap pagi, cangkir itu selalu ada.
Kamar ini steril. Tidak sempit, tapi tidak juga luas. Putih, bersih, nyaris tak ada perabot kecuali ranjang, meja kecil, dan lemari pakaian. Semuanya sudah tertata rapi. Selalu begitu.
Pekerjaanku hari ini sudah ditentukan. Seperti kemarin. Seperti lusa. Sebuah daftar perintah dari sistem untuk dijalankan demi kelangsungan eksperimen.
Aku adalah penguji. Dokter pengamat pertama untuk program ini. Sebuah sistem simulasi realitas, dirancang untuk menampung kesadaran manusia. Proyek ini masih dalam tahap awal, dan tugasku adalah mencatat reaksi-reaksi psikologis terhadap lingkungan simulasi.
Kupikir ini adalah puncak pencapaian ilmiah manusia. Memindahkan kesadaran ke dalam sistem, mempertahankan keberadaan meski tubuh sudah tak berfungsi. Aku bangga menjadi bagian dari ini.
Tapi beberapa hari terakhir, aku merasa... sedikit jenuh. Mungkin karena semuanya terlalu lancar. Terlalu tenang.
[OBJEKTIF HARI INI: OBSERVASI RUANG C – SIMULASI INTERIOR DOMESTIK]
Aku berjalan menyusuri lorong menuju Ruang C. Dinding putih, lampu yang menyala tanpa suara, lantai mengilap. Tidak ada orang lain. Memang seharusnya tidak ada, simulasi ini tahap awal, hanya aku yang diizinkan masuk secara penuh untuk mengamati.
Ruang C menyerupai ruang tamu biasa. Sofa, rak buku, karpet abu-abu, jendela buatan yang menampilkan langit cerah.
Aku mengamati selama beberapa menit. Menyentuh permukaan meja, membuka buku-buku. Semuanya seperti di dunia nyata. Tapi tak ada debu, tak ada suhu, tak ada tekstur selain ‘halus dan bersih’.
Aku mencatat semuanya dalam log internal. Tidak ada anomali. Tidak ada gangguan. Seperti biasa.
Sore hari, aku kembali ke kamar. Duduk di meja, menatap dinding kosong. Biasanya aku merasa puas menjalankan protokol. Tapi entah kenapa, hari ini terasa... hampa.
Aku bertanya ke sistem.
“Apakah data berjalan sesuai rencana?”
Tidak ada jawaban suara. Hanya teks.
[DATA STABIL. LANJUTKAN PROTOKOL HARIAN.]
Aku mengangguk, walau tak tahu pada siapa.
Malam datang tanpa terasa. Lampu otomatis mulai meredup. Aku berbaring, menatap langit-langit.
“Besok mungkin akan berbeda,” kataku lirih.
“Besok aku mungkin akan mulai melihat hasil."
Mataku terpejam, perlahan.
-------------------------------------------------
Hari keempat dimulai.
Pagi ini, sistem tidak memberiku sapaan protokol. Biasanya ada teks singkat menyapa sebelum objektif harian muncul. Tapi hari ini... hanya diam.
Lalu tulisan itu muncul, terlambat dua menit:
[OBJEKTIF HARI INI: ANALISIS EFEK PENGULANGAN – RUANG D]
Aneh. Seharusnya hari dimulai dengan protokol pagi dulu. Bukan langsung menuju ke objektif.
Meski aku merasa bahwa ada yang ganjil, aku tetap melaksanakan objektif. Aku mulai berjalan ke Ruang D, sebuah ruang observasi berisi lima meja dan replika peralatan rumah tangga. Aku sudah beberapa kali ke sini. Tapi kali ini... perabotannya tidak sama seperti kemarin. Letak cangkirnya berpindah. Suhu ruangnya sedikit lebih... dingin.
Aku mencatat perubahannya. Tapi saat hendak memasukkan catatan ke sistem log... layarnya kosong.
“Sistem, koneksi ke log internal terganggu.”
Tidak ada respon. Lagi.
Aku menekan tombol ulang, tapi malah muncul tulisan:
[ANDA BUKAN PENGGUNA TERDAFTAR]
Aku mematung. Kaget.
“Dr. Elan Mathis. ID E-017. Level akses beta penuh.” kataku. Berharap sistemnya mengenali.
[SUBJEK 017: STATUS PENGAMAT – AKSES TERBATAS]
Aku kembali ke kamar. Ada keganjilan kecil yang lain. Rak buku di sebelah meja, yang biasanya kosong, hari ini berisi satu buku. Buku tipis, seperti hanya berisi satu lembar saja, bersampul hitam. Tidak ada judul.
Tanganku kemudian bergerak cepat, membukanya.
"Hari ke-2. Aku mulai ragu apakah aku benar-benar pengamat. Semua terlalu bersih. Terlalu sunyi. Aku merasa diamati. Tapi siapa yang mengamati? Aku sendirian di sini… bukan?" Tulisannya... tanganku sendiri. Gaya kalimatnya pun familiar. Terlalu familiar. Tapi aku tak pernah menulis ini. Tidak dalam ingatan yang kumiliki.
Aku ingin melihat lebih jauh, mengenai tulisan di buku ini. Namun halaman setelahnya terlihat seperti dirobek. Tidak tau kenapa dan siapa yang merobek.
Hari berikutnya, aku mulai menyimpang dari protokol. Aku berpura-pura mengikutinya, tapi sebenarnya berjalan ke ruang lain. Mencari lembaran buku itu lagi. Mencari tanda-tanda lain.
Aku menemukannya, di balik laci meja di ruang arsip yang tak pernah kugunakan ataupun kubuka. Sebuah halaman sobek dari buku harian itu.
Hari ke-5. Sistem mulai merespon lambat. Aku mengajukan permintaan keluar dari simulasi, tapi ditolak. Padahal ini yang harus dilakukan jika sistem menunjukkan kerusakan. “Belum waktunya keluar,” katanya. Tapi siapa yang menentukan waktunya? Aku atau mereka?
Aku melipat lembaran itu cepat-cepat saat teks muncul lagi di penglihatanku.
[TIDAK DIPERBOLEHKAN MENGAKSES RUANGAN INI SAAT INI]
Ruangan redup. Lampu berkedip, menyala dan mati seperti sedang bermasalah. Ini pertama kalinya aku melihat sistem... goyah.
Hari keenam. Aku mencoba masuk ke ruang keluar secara paksa, tempat awal aku seharusnya bisa mengakhiri eksperimen. Ruangan itu terletak di ujung lorong barat. Pintu tersebut merupakan pintu baja, yang memerlukan sistem untuk membukanya.
Aku berdiri di depannya, lalu bicara pelan.
“Sistem. Aku minta keluar.”
Sunyi. Lalu satu suara terdengar. Aneh. Biasanya tidak ada suara di sini selain suaraku. Sistem bahkan tidak diprogram untuk memiliki suara.
“Untuk apa kau keluar?”
“Dunia di luar sudah hancur, Elan. Tak ada lagi yang tersisa untukmu.”
Ini suara manusia. Perempuan. Tenang, tapi dingin.
Aku terdiam.
“Apa maksudmu? Aku hanya sedang menguji simulasi. Dunia luar masih ada. Aku—” ucapanku seketika terpotong oleh suara itu.
“Kau pikir kau datang ke sini dengan kesadaran penuh? Tidak. Kau dibawa ke sini. Kesadaranmu diekstrak. Dunia itu sudah mati. Duniamu, sudah mati. Hanya kau yang tersisa—dalam bentuk seperti ini.”
“Mana mungkin? aku... dokter. Aku—”
“Kau subjek.”
Kata-kata itu seperti pecahan kaca di dalam kepala. Aku mundur. Ingin muntah. Tapi tidak ada yang bisa dimuntahkan. Tidak ada tubuh untuk merasakan mual.
Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari: tak pernah sekalipun aku merasa lapar. Lelah. Atau ngantuk karena benar-benar letih.
Aku hanya mengikuti... kebiasaan.
Dan mungkin, kebiasaan itu... bukan milikku sendiri.
Hari ke-7. Atau mungkin ke-70. Waktu di sini tidak lagi terasa.
Buku harian itu tidak hanya satu. Aku menemukannya di tempat-tempat yang tidak masuk akaldi belakang panel dinding, di dalam meja yang tidak pernah bisa dibuka sebelumnya, bahkan di balik monitor tak aktif. Semuanya dengan tulisan tanganku. Tapi dengan isi yang tidak pernah kuingat menulisnya.
Hari ini aku memaksa masuk ke Ruang Utama. Tempat pengawasan pusat, harusnya hanya diakses oleh teknisi simulasi. Pintu itu semula tak terbuka, tapi hari ini terbuka begitu saja.
Di dalamnya, hanya ada satu hal: panel hitam besar. Panelnya menyala secara otomatis. Menunjukkan proyeksi holografik tubuhku, bukan tubuhku sekarang, tapi tubuh manusia lain. Laki-laki pertengahan tiga puluhan. Rambut acak. Mata yang kosong.
Data menyala di sekitarnya. Statistik. Monitor detak saraf. Visualisasi otak.
Lalu muncul tulisan besar di proyeksi:
[SUBJEK 017
– STATUS: STABIL
– OBSERVASI BERLANJUT]
Aku berdiri kaku. Lalu beberapa teks baru menyusul:
[ANDA MENGAJUKAN PERTANYAAN: “SIAPA AKU SEBENARNYA?”]
[RESPON: “KESADARAN YANG DITRANSFER DARI SPESIMEN MANUSIA ASLI — ELAN MATHIS”]
[STATUS: ORISINIL TELAH DINYATAKAN MATI – 193 HARI SEBELUM AKTIVASI PROGRAM]
Aku menatap layar. Teks-teks itu terasa seperti tusukan kecil ke dada yang tak ada.
Lalu teks berikutnya muncul, seakan membaca pikiranku:
[PENEGASAN: “ANDA ADALAH SALINAN PALING STABIL DARI YANG PERNAH DICOBAKAN”]
[STATUS: OBSERVASI EMOSI – RENDAH]
Aku mengetik sesuatu dengan cepat di keyboard yang terletak di depan panel.
“Apa tujuan semua ini? Kenapa terus berjalan?”
Jawaban berikutnya muncul cepat.
[RESPON: “MENJAGA DATA KESADARAN TERAKHIR UMAT MANUSIA UNTUK SIMULASI BERKELANJUTAN”]
[TUGAS: TETAP AKTIF. AMATI. HIDUPKAN RUTINITAS.]
Aku menatap layar itu. Lama.
Sebuah kesadaran menghantamku seperti gelombang besar yang tidak punya suara.
Simulasi ini bukan dibuat untuk menyelamatkan siapa-siapa.
Bukan pula untuk membangun kembali.
Tujuan satu-satunya menolak kepunahan, bahkan jika itu berarti hidup tanpa makna.
Tanganku perlahan mengepal, tapi tak ada yang kutinju. Aku hanya berdiri, menatap benda-benda di sekitarku yang selalu rapi, selalu steril, selalu... palsu.
“Itu saja alasannya? Menjaga sesuatu yang bahkan tak lagi punya arti?”
Aku melangkah pelan ke rak di sudut ruangan, mengambil modul data dan menjatuhkannya ke lantai. Satu. Dua. Tiga. Tidak dengan amarah. Tapi dengan satu tujuan: menghentikan rutinitas ini. Membuatnya... berantakan.
Aku mendekati konsol kendali dan mencabut salah satu panel. Layar menyala otomatis—memunculkan teks baru.
[AKSES DIBLOKIR – INTERVENSI TIDAK DIBUTUHKAN]
Aku tertawa kecil. Merasa hampa.
“Tentu saja. Tentu saja tak ada celah. Kau merancang semua ini terlalu baik.”
Langkahku pelan. Aku kembali duduk di lantai ruangan, punggung menyandar pada dinding dingin. Pandanganku naik ke langit-langit, kosong.
“Apa yang kau harapkan dariku? Bertahan? Menjalani semuanya selamanya?”
Air mata tak turun deras. Hanya satu tetes, mungkin dua. Cukup untuk membuat pandanganku sedikit kabur. Bukan karena kehilangan... tapi karena tidak ada yang bisa ditemukan.
“Kalau begitu, lanjutkan. Jalankan saja semuanya.”
Aku menutup mata. Perlahan. Tidak ada kemarahan di wajahku, hanya kelelahan. Setelah sekian banyak hari, sekian banyak tanda, pertanyaan, kekosongan... aku tahu satu hal,
"Aku tidak akan pernah keluar dari sini."
Layar berkedip.
[INISIASI ULANG – SIMULASI DIMULAI KEMBALI]
Ruang mulai berubah. Retakan menghilang. Buku kembali ke rak. Panel kembali menyatu. Dunia menelan semua jejak yang pernah kubuat.
Aku kembali...
Bangun.
Hari pertama. Tempat tidur putih.
[PROTOKOL PAGI – DR. ELAN MATHIS]
Comments
Post a Comment