Nb: Sebuah puisi yang ditujukan kepada orang yang telah lama hilang dari hidupku. Hey, D. I hope you'll eventually see this.
Aku bicara pada hujan, memekikkan namamu di sela derunya.
Ia membalas dengan usap rintik, menyapu muka,
membilas sisa duka yang mengerak di pipi.
Seolah ia menyahut raungku, kau tegak di sana,
menatap kemari dengan muka penuh harap.
Seketika, tangis semesta luruh.
Waktu telah melahap hari.
Kembali aku mengadu pada hujan, memekikkan namamu,
menagih keajaiban yang dulu pernah ada.
Tapi hujan membisu. Ia tak menyahut raungku.
Telah kupahat segala cara agar pekik itu sampai,
dan jika api di dada mulai redup, semesta menyulutnya lagi.
Kecil memang, tapi cukup untuk tetap menjadi waras.
Kau tetap tak ada.
Seolah hujan sengaja mengunci mulutnya kali ini.
Bara di jiwa terpaksa memudar—tapi tidak binasa.
Mungkin kali ini, semesta mencambukku untuk sabar.
Menunggu hingga kau kembali pecah dalam pandangan.

Comments
Post a Comment